
Bajubang, 12 November 2025 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Institut Leimena menyelenggarakan Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy/ICCCRL) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari ini resmi berakhir pada hari ini, dengan penuh semangat dan harapan besar terhadap penguatan pendidikan lintas budaya di Indonesia.
Konferensi yang mengusung tema “Education and Social Trust in Multifaith and Multicultural Societies” ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, akademisi, praktisi pendidikan, dan tokoh lintas agama dari dalam maupun luar negeri. Para peserta berdiskusi dan berbagi gagasan tentang pentingnya pendidikan sebagai sarana memperkuat kohesi sosial serta kepercayaan di tengah keberagaman.
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa literasi keagamaan lintas budaya merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter bangsa yang menghargai perbedaan.
> “Pendidikan harus menjadi ruang yang menumbuhkan saling pengertian dan rasa hormat antarmanusia. Melalui literasi keagamaan lintas budaya, kita menanamkan nilai-nilai kemanusiaan universal dan memperkuat semangat kebangsaan,” ujar Prof. Abdul Mu’ti.
Perwakilan dari Institut Leimena turut menyampaikan apresiasi atas dukungan Kemendikdasmen dalam memperkuat program literasi lintas budaya yang berorientasi pada perdamaian dan toleransi. Kolaborasi ini diharapkan dapat terus berlanjut untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadaban.
Pada hari terakhir konferensi, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., memberikan pesan penutup yang penuh inspirasi. Ia menegaskan bahwa konferensi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kepercayaan sosial dan memperkokoh persaudaraan antarwarga bangsa.
> “Pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan universal. Melalui literasi lintas budaya, kita memperkuat kepercayaan sosial dan memperkokoh persatuan di tengah keberagaman,” tutur Prof. Atip dalam sambutannya.
Kegiatan ini juga diikuti oleh Bapak Asep Prasetyo, guru MTsN 4 Batanghari, yang turut bergabung melalui Zoom Meeting. Ia mengaku sangat terinspirasi oleh berbagai materi dan diskusi yang disampaikan selama konferensi berlangsung.
> “Saya merasa mendapatkan banyak wawasan baru tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan dan toleransi di tengah masyarakat yang beragam. Pengalaman ini menjadi motivasi bagi kami para guru madrasah untuk terus menanamkan nilai-nilai saling menghargai kepada peserta didik,” ungkap Bapak Asep.
Dengan semangat kolaborasi yang dibangun melalui konferensi ini, Kemendikdasmen berharap hasil diskusi dan rekomendasi yang lahir dapat menjadi pijakan nyata dalam memperkuat praktik pendidikan yang berkeadaban, toleran, dan berorientasi pada perdamaian global.
Kontributor AP
|
34x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...