
Bajubang, Maret 2026 _ Seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di berbagai penjuru nusantara kembali merayakan momen kebersamaan melalui tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan. Pada Sabtu (28/3/2026), suasana kebersamaan begitu kental terasa dikediaman Suherman yang menjabat Ketua komite MTsN 4 Bajubang, di mana warga dan tamu bahu-membahu menyiapkan dan menikmati ketupat bersama-sama.
Lebaran Ketupat, yang dirayakan pada 8 Syawal, bukan sekadar perayaan kuliner. Tradisi ini merupakan simbol syukur atas selesainya puasa sunah enam hari di bulan Syawal serta menjadi momen krusial untuk mempererat tali silaturahmi yang sempat tertunda saat Idul Fitri.
Tradisi kupatan ini mengajarkan kita untuk kembali bekerjasama. Tanpa sinergi warga, ketupat tidak akan tersaji secepat ini. Ini simbol bahwa kesatuan hati menghasilkan kebaikan," ujar salah Agung seorang Tokoh Masyarakat, salah satu warga setempat.
Lebaran Ketupat mengandung makna filosofis laku papat atau empat tindakan, yaitu: Lebaran: Usai puasa Ramadan, Luberan: Meluber/berbagi rezeki, Leburan: Saling melebur dosa (memaafkan), Laburan: Menyucikan hati (berwarna putih seperti beras ketupat).
Semoga Apa yang terkandung dalam makna Filosofis itu menjadi Kenyataan yang terefleksi dalam perilaku keseharian, sebagai efek langsung dalam Ramadhan yang baru saja dijalankan untuk menuju kemenangan yang berbentuk kesuuksesan dalam kehidupan dimasa mendatang. Wallahu A�lam Bissowab. Tim Humas _ Abdullah
|
123x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...